Hujan Pertama Alka

Pernah merindukan kekasih yang sudah lama tak dijumpai, dan kita tidak tahu kapan ia akan datang? Rindu sekaligus jengkel? Tentu saja. 

Seperti itu lah perasaan tanah-tanah dan dedaunan menanti hujan yang sirna beberapa bulan belakangan. Tanah-tanah mulai bercelah seukuran paha kambing. Seolah baru saja digoncang gempa bumi. Daun-daun pun menyerah dan berguguran satu-persatu. Berbaring di atas tanah yang tandus.

Bertepatan dengan kondisi itu, Alka terlahir di dunia. Ia terlahir saat hujan masih enggan terjun. Saat awan terlampau kikir untuk menangis. Saat matahari terlalu perkasa untuk mengalah.

Alka terbilang beruntung karena dilahirkan di Bandung. Yang meskipun sama-sama merindukan hujan, tidak ada kabut asap akibat kebakaran hutan di sana. Sementara banyak anak seusianya di Kalimantan, Sumatra, dan beberapa daerah lainnya yang tengah berjuang untuk mendapat udara bersih.

Alka juga termasuk beruntung, sebab bapaknya bukan seorang petani yang harus menanggung rugi akibat bibitnya tidak berkembang dengan baik. Atau yang tanamannya gosong diterjang hawa panas. Sementara anak-anak di banyak area pesawahan harus tabah menahan lapar akibat sawah garapan menemui gagal panen.

Alka juga beruntung karena ia belum pernah menyaksikan hujan, sehingga belum merasakan rindu yang sangat terhadap tetesan berkah tersebut.

Barulah sekira Alka berusia tiga bulan, hujan turun. Deras. Setelah sekian lama menghilang entah ke mana. Semua bersuka-cita menyambut datangnya hujan, termasuk dedaunan dan kumbang-kumbang mungil yang bersembunyi di baliknya.

Dari balik jendela kamar, Alka menatap butiran air yang merambati kaca. Merayap perlahan meninggalkan jejak basah yang dibuntuti butiran air lainnya. Anak itu memerhatinan hujaman rinai yang turun dari langit dengan keheranan.

Bisa saya pastikan, dari raut kebingungannya, ia menerka suara bising apa yang tengah terjadi di luar: suara hujan yang menerpa bumi. Diselingi nyanyian katak yang meloloskan sejuta rasa syukur.

Juga hidung mungilnya nampak asing dengan aroma petrikor.

Alka. Anakku. Air-air yang tumpah dari atas sana dinamakan hujan. Sebuah fenomena alam yang akan kau pelajari di kelas kelak. Hujan itu, nak, begitu dipuja oleh banyak orang. Sekaligus dimaki oleh sebagian lainnya.

Kelak, kau akan berada di antara barisan orang-orang yang mencintai hujan: menari di bawahnya sambil membiarkan tubuhmu kuyup.

Atau justru berada di antara orang-orang yang membenci hujan. Seperti bapakmu. Yang ironisnya, menjadikan hujan sebagai inspirasi bagi karya pertamanya.

Bogor, Oktober 2019

Popular posts from this blog

Abate, Oh Abate

Mykonos

Liverpool